MENGENAL PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI







BAB I 

PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang 

Kebutuhan energi listrik di Indonesia semakin meningkat seiring pertumbuhan 

penduduk, perkembangan industri, dan modernisasi kehidupan. Selama ini, sebagian 

besar listrik dipenuhi oleh pembangkit listrik berbasis energi fosil seperti batubara, 

minyak bumi, dan gas alam. Namun, ketersediaan energi fosil semakin menipis serta 

menimbulkan dampak negatif berupa pencemaran lingkungan dan emisi gas rumah kaca. 

Salah satu alternatif sumber energi terbarukan yang sangat potensial di Indonesia adalah 

energi panas bumi atau geothermal. Indonesia termasuk negara yang berada di “cincin api 

Pasifik” (Pacific Ring of Fire), sehingga memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia, 

yakni sekitar 40% dari potensi panas bumi global. Pemanfaatan energi panas bumi untuk 

menghasilkan listrik dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). 

PLTP menjadi solusi penting karena memiliki keunggulan berupa ketersediaan yang 

melimpah, ramah lingkungan, berkelanjutan, dan mampu beroperasi secara kontinyu 

tanpa tergantung pada kondisi cuaca seperti tenaga surya atau angin. Oleh karena itu, 

pengembangan PLTP sangat strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional 

sekaligus mendukung target bauran energi baru terbarukan. 

1.2 Rumusan Masalah 

1. Apa pengertian dan prinsip dasar PLTP? 

2. Bagaimana potensi panas bumi di Indonesia? 

3. Apa saja komponen dan tahapan kerja PLTP? 

4. Apa kelebihan dan kekurangan PLTP dibanding pembangkit lain? 

5. Bagaimana prospek dan tantangan pengembangan PLTP di masa depan? 

1.3 Tujuan 

Makalah ini bertujuan untuk: 

1. Menjelaskan konsep dasar PLTP. 

2. Menguraikan potensi panas bumi di Indonesia. 

3. Membahas teknologi, sistem, dan cara kerja PLTP. 

4. Menganalisis keunggulan, kelemahan, serta dampak PLTP. 

5. Memberikan gambaran prospek pengembangan PLTP di Indonesia. 

BAB II 

PEMBAHASAN 

2.1 Pengertian PLTP 

PLTP adalah sistem pembangkit listrik yang memanfaatkan panas dari dalam 

bumi berupa uap atau air panas untuk menggerakkan turbin generator. Energi panas bumi 

diambil melalui sumur produksi, kemudian diolah dalam instalasi pembangkit, dan 

menghasilkan energi listrik. 

Energi panas bumi adalah energi panas yang tersimpan di dalam kerak bumi dan 

dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Panas ini berasal dari aktivitas 

geologi seperti peluruhan radioaktif, aktivitas vulkanik, serta proses tektonik lempeng 

(Hutapea, 2016). Energi ini termasuk energi terbarukan karena panas bumi terus 

dihasilkan oleh aktivitas internal bumi (Dickson & Fanelli, 2014). 

2.2 Potensi Panas Bumi di Indonesia 

Indonesia memiliki cadangan panas bumi sebesar 28,5 GW yang tersebar di lebih 

dari 300 titik lokasi, terutama di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. 

Hingga kini, pemanfaatannya baru sekitar 2.3 GW atau kurang dari 10% dari total 

potensi. Hal ini menunjukkan masih sangat besarnya peluang untuk mengembangkan 

PLTP. 

 Posisi Geografis Indonesia 

Indonesia berada pada jalur cincin api Pasifik (Ring of Fire) yang merupakan 

kawasan dengan aktivitas tektonik dan vulkanik yang tinggi. Kondisi ini menjadikan 

Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi energi panas bumi terbesar di dunia. 

 Besaran Potensi Nasional 

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, 2020), 

potensi energi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 23,9 GW atau sekitar 

40% dari cadangan panas bumi dunia. Namun, pemanfaatannya masih relatif kecil, 

baru sekitar 2,3–2,5 GW (sekitar 10% dari total potensi). 

 Sebaran Potensi 

Potensi panas bumi tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama di 

daerah yang berdekatan dengan gunung api aktif, di antaranya: 

a) Sumatera : Gunung Sibayak, Gunung Sorik Marapi, dan Gunung Rajabasa. 

b) Jawa Barat : Kamojang, Wayang Windu, Patuha, Darajat. 

c) Jawa Tengah & Timur : Dieng, Gunung Lawu, Gunung Ijen. 

d) Sulawesi : Lahendong, Tompaso. 

e) Nusa Tenggara : Ulumbu, Mataloko. 

f) 

Maluku & Papua : Tulehu, Jailolo. 

 Pemanfaatan Saat Ini 

Beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang telah beroperasi 

antara lain: 

a) PLTP Kamojang (Jawa Barat) – kapasitas ± 235 MW. 

b) PLTP Wayang Windu (Jawa Barat) – kapasitas ± 227 MW. 

c) PLTP Sarulla (Sumatera Utara) – kapasitas ± 330 MW (salah satu terbesar di 

dunia). 

d) PLTP Dieng (Jawa Tengah) – kapasitas ± 60 MW. 

e) PLTP Lahendong (Sulawesi Utara) – kapasitas ± 120 MW. 

 Keunggulan Potensi di Indonesia 

a) Melimpah: Menjadi salah satu negara dengan cadangan terbesar di dunia. 

b) Base load energy: Bisa menyuplai listrik secara stabil 24 jam tanpa tergantung 

cuaca. 

c) Ramah lingkungan: Emisi lebih rendah dibanding energi fosil. 

d) Mendukung transisi energi: Sejalan dengan target Indonesia menuju Net Zero 

Emission 2060. 

 Tantangan Pengembangan 

Meskipun potensinya besar, ada sejumlah kendala: 

a) Biaya eksplorasi dan pengeboran yang tinggi. 

b) Risiko kegagalan eksplorasi jika sumur tidak produktif. 

c) Perizinan dan masalah tata kelola lahan. 

d) Kurangnya investasi swasta karena tingginya risiko awal. 

2.3 Prinsip dan Cara Kerja PLTP 

Cara kerja PLTP pada dasarnya adalah mengonversi panas dari dalam bumi 

menjadi energi mekanik dan akhirnya menjadi energi listrik. Secara garis besar, PLTP 

memanfaatkan fluida panas bumi melalui sumur produksi, kemudian mengalirkannya ke 

turbin, lalu sisa fluida dikembalikan ke dalam bumi melalui sumur injeksi agar 

keberlanjutan energi tetap terjaga. Secara umum, sistem PLTP terbagi dalam beberapa 

jenis: 

1. Dry Steam Plant (Uap Kering): Panas bumi yang langsung menghasilkan uap kering 

dialirkan untuk memutar turbin. 

 Menggunakan uap kering langsung dari reservoir. 

 Uap dialirkan langsung ke turbin. 

 Contoh: PLTP Kamojang (Jawa Barat). 

Skema singkat: Reservoir → Sumur produksi → Uap kering → Turbin → Generator → 

Listrik. 

2. Flash Steam Plant (Uap Kilat): Air panas bertekanan tinggi dari reservoir dialirkan ke 

permukaan, kemudian mengalami penurunan tekanan sehingga terbentuk uap. 

 Fluida panas bumi berupa air bertekanan tinggi dialirkan ke separator. 

 Di separator, air panas berubah menjadi uap (flash steam). 

 Uap dipakai untuk memutar turbin, sedangkan air sisa dikembalikan ke bumi. 

 Contoh: PLTP Sarulla (Sumatera Utara). 

Skema singkat: Reservoir → Sumur produksi → Separator → Uap → Turbin → 

Generator → Listrik. 

3. Binary Cycle Plant: Air panas dari reservoir dialirkan ke penukar panas, memanaskan 

fluida kerja dengan titik didih rendah. Fluida tersebut kemudian menggerakkan turbin. 

 Digunakan untuk sumber panas dengan suhu sedang (120–180°C). 

 Fluida panas bumi tidak langsung memutar turbin. 

 Fluida panas memanaskan fluida sekunder (misalnya isobutane atau pentane) 

dengan titik didih rendah. 

 Fluida sekunder berubah menjadi uap lalu memutar turbin. 

 Lebih ramah lingkungan karena sistem tertutup. 

Skema singkat: Reservoir → Heat Exchanger → Fluida sekunder → Turbin → 

Generator → Listrik. 

2.4 Komponen Utama PLTP - Sumur Produksi: Mengambil fluida panas bumi dari reservoir. - Separator: Memisahkan uap dan air. - Turbin: Digerakkan oleh uap untuk menghasilkan energi mekanik. - Generator: Mengubah energi mekanik turbin menjadi energi listrik. - Kondensor: Mendinginkan uap bekas turbin agar kembali menjadi air. - Cooling Tower: Menurunkan suhu air pendingin. - Sumur Injeksi: Mengembalikan air ke dalam bumi agar reservoir tetap terjaga. 

2.5 Kelebihan PLTP 

1. Energi Terbarukan dan Berkelanjutan 

 Panas bumi berasal dari aktivitas geologi alami, sehingga ketersediaannya sangat 

lama (jutaan tahun). 

 Selama sistem sumur produksi dan injeksi dikelola dengan baik, energi panas 

bumi bisa dimanfaatkan terus-menerus. 

2. Ramah Lingkungan 

 Emisi CO₂ dan gas rumah kaca jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit listrik 

berbahan bakar fosil (batubara, minyak, atau gas). 

 Tidak menghasilkan polusi udara dalam jumlah besar. 

3. Base Load Energy (Stabil 24 Jam) 

 Berbeda dengan energi surya atau angin yang bergantung cuaca, PLTP bisa 

beroperasi 24 jam non-stop. 

 Cocok untuk menyuplai kebutuhan listrik dasar (base load). 

4. Potensi Besar di Indonesia 

 Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23,9 GW (sekitar 40% cadangan 

dunia). 

 Menjadi salah satu energi strategis untuk kemandirian energi nasional. 

5. Mengurangi Ketergantungan Energi Fosil 

 PLTP dapat membantu transisi energi menuju energi bersih. 

 Membantu mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). 

6. Manfaat Ekonomi Lokal 

 Pengembangan PLTP membuka lapangan pekerjaan di sektor eksplorasi, 

konstruksi, dan operasi. 

 Daerah sekitar PLTP biasanya ikut berkembang karena adanya infrastruktur 

penunjang. 

7. Teknologi Semakin Efisien 

 Perkembangan sistem Binary Cycle memungkinkan pemanfaatan sumber panas 

dengan suhu lebih rendah. 

 Teknologi Enhanced Geothermal System (EGS) bisa memperluas pemanfaatan 

di daerah non-vulkanik. 

2.6 Kekurangan PLTP 

1. Biaya Investasi Awal Tinggi 

 Eksplorasi, pengeboran sumur produksi, dan pembangunan fasilitas PLTP 

membutuhkan modal yang sangat besar. 

 Biaya awal bisa mencapai jutaan dolar per MW. 

2. Risiko Eksplorasi 

 Tidak semua lokasi eksplorasi menghasilkan uap atau air panas yang sesuai 

kebutuhan. 

 Jika sumur tidak produktif, investasi bisa merugi. 

3. Lokasi Terbatas 

 PLTP hanya bisa dibangun di wilayah dengan potensi panas bumi, biasanya di 

sekitar gunung api atau jalur tektonik. 

 Tidak semua daerah bisa memanfaatkannya secara langsung. 

4. Masalah Lingkungan Lokal 

 Potensi pelepasan gas beracun seperti H₂S (hidrogen sulfida). 

 Risiko terjadinya subsiden (penurunan tanah) akibat pengambilan fluida dari 

dalam bumi. 

 Bisa menimbulkan perubahan ekosistem lokal. 

5. Proses Perizinan Rumit 

 Banyak PLTP berada di kawasan hutan lindung atau konservasi sehingga 

perizinannya kompleks. 

 Kadang terjadi konflik lahan dengan masyarakat lokal. 

6. Waktu Pembangunan Lama 

 Mulai dari survei, eksplorasi, perizinan, konstruksi, hingga operasi bisa memakan 

waktu 5–7 tahun. 

 Lebih lama dibandingkan PLTU (batubara) atau PLTG (gas). 

7. Skalabilitas Terbatas 

 Kapasitas PLTP biasanya tidak sebesar PLTU batubara. 

 Kapasitas terbesar di Indonesia sekitar 330 MW (PLTP Sarulla), masih jauh lebih 

kecil dibanding PLTU yang bisa ribuan MW dalam satu lokasi. 

2.7 Dampak dan Tantangan 

PLTP relatif ramah lingkungan, tetapi tetap memiliki dampak seperti emisi gas 

belerang (H₂S) dan risiko penurunan tanah (subsidence). Tantangan utama 

pengembangan PLTP adalah mahalnya biaya eksplorasi, kompleksitas teknologi, serta 

kepastian regulasi dan investasi. 

a. Dampak Positif 

1. Energi Bersih & Rendah Emisi → mengurangi ketergantungan pada energi fosil 

dan emisi gas rumah kaca. 

2. Ketersediaan Energi Stabil → dapat beroperasi 24 jam (base load energy). 

3. Dampak Ekonomi → membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan 

daerah, serta mendorong pembangunan infrastruktur. 

4. Diversifikasi Energi Nasional → memperkuat ketahanan energi dan mendukung 

target Net Zero Emission 2060. 

5.  

10 

b. Dampak Negatif 

1. Lingkungan Lokal 

o Potensi pelepasan gas beracun (H₂S, CO₂, NH₃) meskipun kecil. 

o Risiko subsiden (penurunan tanah) akibat pengambilan fluida. 

o Gangguan terhadap tata air bawah tanah. 

2. Sosial & Lahan 

o Konflik dengan masyarakat sekitar terkait penggunaan lahan, terutama 

jika berada di kawasan hutan lindung atau permukiman. 

o Perubahan tata guna lahan. 

3. Risiko Teknis 

o Kebisingan dari pengeboran dan operasi turbin. 

o Getaran atau potensi mikro-seismik (gempa kecil) akibat reinjeksi fluida. 

2. Tantangan PLTP 

1. Biaya Investasi Tinggi 

o Eksplorasi dan pengeboran memerlukan dana besar dengan risiko 

kegagalan tinggi. 

2. Risiko Eksplorasi 

o Tidak semua lokasi yang terindikasi panas bumi terbukti produktif. 

3. Perizinan & Regulasi 

o Banyak lokasi berada di kawasan hutan konservasi → perizinan kompleks 

dan lama. 

o Tumpang tindih kebijakan pusat dan daerah. 

4. Konflik Sosial & Lingkungan 

o Penolakan masyarakat karena khawatir dengan dampak lingkungan atau 

lahan adat. 

11 

o Perlunya sosialisasi dan pendekatan partisipatif. 

5. Teknologi & SDM 

o Masih terbatasnya teknologi dalam negeri. 

o Ketergantungan pada teknologi asing untuk eksplorasi dan pengeboran. 

6. Waktu Pembangunan Lama 

o Dari tahap eksplorasi hingga operasi komersial bisa memakan waktu 5–7 

tahun, sehingga tidak cepat memenuhi kebutuhan listrik mendesak. 

2.8 Prospek Pengembangan PLTP di Indonesia 

Dengan potensi lebih dari 28 GW, PLTP memiliki prospek cerah untuk 

mendukung bauran energi nasional. Pemerintah Indonesia menargetkan energi baru 

terbarukan (EBT) mencapai 23% pada 2025, di mana PLTP menjadi salah satu 

kontributor utama. Dukungan regulasi, insentif investasi, serta inovasi teknologi menjadi 

faktor kunci keberhasilan pengembangan PLTP di masa depan. 

1. Potensi Sumber Daya yang Sangat Besar 

 Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23,9 GW, setara 40% cadangan 

dunia. 

 Namun, kapasitas terpasang baru sekitar 2,5 GW (±10%). 

 Artinya, masih ada peluang pengembangan lebih dari 21 GW yang belum 

dimanfaatkan. 

2. Kebutuhan Energi Nasional yang Meningkat 

 Pertumbuhan penduduk dan industri mendorong peningkatan konsumsi listrik 

sekitar 4–6% per tahun. 

 PLTP bisa menjadi solusi karena mampu menghasilkan base load energy yang 

stabil 24 jam, berbeda dengan energi surya atau angin yang bergantung cuaca. 

3. Dukungan Kebijakan Pemerintah 

 Masuk dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dengan target 

pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. 

 Net Zero Emission (NZE) 2060 menjadikan PLTP salah satu pilar utama energi 

bersih. 

12 

 Pemerintah memberikan insentif fiskal, keringanan pajak, dan dukungan regulasi 

untuk percepatan investasi panas bumi. 

4. Perkembangan Teknologi 

 Teknologi Binary Cycle Plant memungkinkan pemanfaatan sumber panas 

dengan suhu sedang. 

 Enhanced Geothermal System (EGS) membuka peluang pengembangan panas 

bumi di daerah non-vulkanik. 

 Digitalisasi dan sistem monitoring modern menekan risiko kegagalan eksplorasi. 

5. Keuntungan Ekonomi dan Sosial 

 PLTP dapat mengurangi ketergantungan pada impor BBM. 

 Menciptakan lapangan kerja di daerah sekitar proyek (eksplorasi, konstruksi, 

operasi). 

 Mendorong pembangunan daerah terpencil yang dekat dengan sumber panas 

bumi. 

6. Tantangan yang Harus Diatasi 

 Biaya eksplorasi tinggi dan risiko sumur tidak produktif. 

 Perizinan rumit, terutama di kawasan hutan lindung. 

 Penerimaan masyarakat lokal yang masih kurang karena khawatir dampak 

lingkungan. 

 Waktu pembangunan yang lama (5–7 tahun) dibandingkan pembangkit fosil. 

Prospek pengembangan PLTP di Indonesia sangat cerah karena: 

 Potensinya terbesar di dunia, 

 Kebijakan energi nasional mendukung transisi ke energi bersih, 

 Teknologi baru semakin efisien. 

Namun, agar bisa optimal, perlu dukungan investasi, penyederhanaan regulasi, 

penguatan SDM, serta penerimaan masyarakat lokal. Jika tantangan ini bisa diatasi, 

PLTP bisa menjadi tulang punggung energi terbarukan Indonesia menuju Net Zero 

Emission 2060. 

13 

BAB III 

PENUTUP 

3.1 Kesimpulan 

PLTP adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan panas bumi untuk menghasilkan 

energi listrik. Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, namun 

pemanfaatannya masih kecil. PLTP menawarkan energi bersih, berkelanjutan, dan stabil, 

meski menghadapi kendala biaya, teknologi, dan regulasi. 

3.2 Saran 

Perlu adanya dukungan pemerintah melalui regulasi, insentif fiskal, serta riset teknologi 

untuk menekan biaya dan risiko eksplorasi. Selain itu, masyarakat perlu diberikan 

edukasi tentang pentingnya pemanfaatan energi terbarukan, sehingga PLTP dapat 

berkembang optimal sebagai solusi energi masa depan.

Komentar